This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Fakta. Show all posts
Showing posts with label Fakta. Show all posts

Wednesday, 27 December 2017

10 Kerusakan dalam Perayaan Tahun Baru

10 Kerusakan dalam Perayaan Tahun Baru  


Bagaimana hukum merayakan tahun baru bagi muslim? Ternyata banyak kerusakan yang ditimbulkan sehingga membuat perayaan tersebut terlarang.


Sejarah Tahun Baru Masehi
Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.[1]
Dari sini kita dapat menyaksikan bahwa perayaan tahun baru dimulai dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari Islam. Perayaan tahun baru ini terjadi pada pergantian tahun kalender Gregorian yang sejak dulu telah dirayakan oleh orang-orang kafir.
Berikut adalah beberapa kerusakan akibat seorang muslim merayakan tahun baru.


Kerusakan Pertama: Merayakan Tahun Baru Berarti Merayakan ‘Ied (Perayaan) yang Haram
Perlu diketahui bahwa perayaan (’ied) kaum muslimin ada dua yaitu ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha. Anas bin Malik mengatakan,
كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى
“Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’”[2]
Namun setelah itu muncul berbagai perayaan (’ied) di tengah kaum muslimin. Ada perayaan yang dimaksudkan untuk ibadah atau sekedar meniru-niru orang kafir. Di antara perayaan yang kami maksudkan di sini adalah perayaan tahun baru Masehi. Perayaan semacam ini berarti di luar perayaan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan sebagai perayaan yang lebih baik yang Allah ganti. Karena perayaan kaum muslimin hanyalah dua yang dikatakan baik yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.
Perhatikan penjelasan Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’, komisi fatwa di Saudi Arabia berikut ini:
Al Lajnah Ad Da-imah mengatakan, “Yang disebut ‘ied atau hari perayaan secara istilah adalah semua bentuk perkumpulan yang berulang secara periodik boleh jadi tahunan, bulanan, mingguan atau semisalnya. Jadi dalam ied terkumpul beberapa hal:
  1. Hari yang berulang semisal idul fitri dan hari Jumat.
  2. Berkumpulnya banyak orang pada hari tersebut.
  3. Berbagai aktivitas yang dilakukan pada hari itu baik berupa ritual ibadah ataupun non ibadah.
Hukum ied (perayaan) terbagi menjadi dua:
  1. Ied yang tujuannya adalah beribadah, mendekatkan diri kepada Allah dan mengagungkan hari tersebut dalam rangka mendapat pahala, atau
  2. Ied yang mengandung unsur menyerupai orang-orang jahiliah atau golongan-golongan orang kafir yang lain maka hukumnya adalah bid’ah yang terlarang karena tercakup dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
    مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
    Barang siapa yang mengada-adakan amal dalam agama kami ini padahal bukanlah bagian dari agama maka amal tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Misalnya adalah peringatan maulid nabi, hari ibu dan hari kemerdekaan. Peringatan maulid nabi itu terlarang karena hal itu termasuk mengada-adakan ritual yang tidak pernah Allah izinkan di samping menyerupai orang-orang Nasrani dan golongan orang kafir yang lain. Sedangkan hari ibu dan hari kemerdekaan terlarang karena menyerupai orang kafir.”[3] -Demikian penjelasan Lajnah-
Begitu pula perayaan tahun baru termasuk perayaan yang terlarang karena menyerupai perayaan orang kafir.


Kerusakan Kedua: Merayakan Tahun Baru Berarti Tasyabbuh (Meniru-niru) Orang KafirMerayakan tahun baru termasuk meniru-niru orang kafir. Dan sejak dulu Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mewanti-wanti bahwa umat ini memang akan mengikuti jejak orang Persia, Romawi, Yahudi dan Nashrani. Kaum muslimin mengikuti mereka baik dalam berpakaian atau pun berhari raya.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ » . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ « وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ »
Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“[4]
Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” [5]
An Nawawi –rahimahullah– ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziro’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal kekufuran. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.”[6]
Lihatlah apa yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa yang beliau katakan memang benar-benar terjadi saat ini. Berbagai model pakaian orang barat diikuti oleh kaum muslimin, sampai pun yang setengah telanjang. Begitu pula berbagai perayaan pun diikuti, termasuk pula perayaan tahun baru ini.
Ingatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir (tasyabbuh).
Beliau bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” [7]
Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) ini terjadi dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan. Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).[8]


Kerusakan Ketiga: Merekayasa Amalan yang Tanpa Tuntunan di Malam Tahun Baru
Kita sudah ketahui bahwa perayaan tahun baru ini berasal dari orang kafir dan merupakan tradisi mereka. Namun sayangnya di antara orang-orang jahil ada yang mensyari’atkan amalan-amalan tertentu pada malam pergantian tahun. “Daripada waktu kaum muslimin sia-sia, mending malam tahun baru kita isi dengan dzikir berjama’ah di masjid. Itu tentu lebih manfaat daripada menunggu pergantian tahun tanpa ada manfaatnya”, demikian ungkapan sebagian orang. Ini sungguh aneh. Pensyariatan semacam ini berarti melakukan suatu amalan yang tanpa tuntunan. Perayaan tahun baru sendiri adalah bukan perayaan atau ritual kaum muslimin, lantas kenapa harus disyari’atkan amalan tertentu ketika itu? Apalagi menunggu pergantian tahun pun akan mengakibatkan meninggalkan berbagai kewajiban sebagaimana nanti akan kami utarakan.
Jika ada yang mengatakan, “Daripada menunggu tahun baru diisi dengan hal yang tidak bermanfaat, mending diisi dengan dzikir. Yang penting kan niat kita baik.”
Maka cukup kami sanggah niat baik semacam ini dengan perkataan Ibnu Mas’ud ketika dia melihat orang-orang yang berdzikir, namun tidak sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang melakukan dzikir yang tidak ada tuntunannya ini mengatakan pada Ibnu Mas’ud,
وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ.
Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”
Ibnu Mas’ud lantas berkata,
وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ
Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun mereka tidak mendapatkannya.” [9]
Jadi dalam melakukan suatu amalan, niat baik semata tidaklah cukup. Kita harus juga mengikuti contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baru amalan tersebut bisa diterima di sisi Allah.


Kerusakan Keempat: Terjerumus dalam Keharaman dengan Mengucapkan Selamat Tahun Baru
Kita telah ketahui bersama bahwa tahun baru adalah syiar orang kafir dan bukanlah syiar kaum muslimin. Jadi, tidak pantas seorang muslim memberi selamat dalam syiar orang kafir seperti ini. Bahkan hal ini tidak dibolehkan berdasarkan kesepakatan para ulama (ijma’).
Ibnul Qoyyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.
Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.”[10]


Kerusakan Kelima: Meninggalkan Perkara Wajib yaitu Shalat Lima Waktu
Betapa banyak kita saksikan, karena begadang semalam suntuk untuk menunggu detik-detik pergantian tahun, bahkan begadang seperti ini diteruskan lagi hingga jam 1, jam 2 malam atau bahkan hingga pagi hari, kebanyakan orang yang begadang seperti ini luput dari shalat Shubuh yang kita sudah sepakat tentang wajibnya. Di antara mereka ada yang tidak mengerjakan shalat Shubuh sama sekali karena sudah kelelahan di pagi hari. Akhirnya, mereka tidur hingga pertengahan siang dan berlalulah kewajiban tadi tanpa ditunaikan sama sekali. Na’udzu billahi min dzalik.
Ketahuilah bahwa meninggalkan satu saja dari shalat lima waktu bukanlah perkara sepele. Bahkan meningalkannya para ulama sepakat bahwa itu termasuk dosa besar.
Ibnul Qoyyim –rahimahullah– mengatakan, “Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja termasuk dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”[11]
Adz Dzahabi –rahimahullah– juga mengatakan, “Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat -yaitu satu shalat saja- dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa).”[12]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengancam dengan kekafiran bagi orang yang sengaja meninggalkan shalat lima waktu. Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.”[13] Oleh karenanya, seorang muslim tidak sepantasnya merayakan tahun baru sehingga membuat dirinya terjerumus dalam dosa besar.
Dengan merayakan tahun baru, seseorang dapat pula terluput dari amalan yang utama yaitu shalat malam. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[14] Shalat malam adalah sebaik-baik shalat dan shalat yang biasa digemari oleh orang-orang sholih. Seseorang pun bisa mendapatkan keutamaan karena bertemu dengan waktu yang mustajab untuk berdo’a yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Sungguh sia-sia jika seseorang mendapati malam tersebut namun ia menyia-nyiakannya. Melalaikan shalat malam disebabkan mengikuti budaya orang barat, sungguh adalah kerugian yang sangat besar.


Kerusakan Keenam: Begadang Tanpa Ada Hajat
Begadang tanpa ada kepentingan yang syar’i dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk di sini adalah menunggu detik-detik pergantian tahun yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.”[15]
Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!”[16] Apalagi dengan begadang, ini sampai melalaikan dari sesuatu yang lebih wajib (yaitu shalat Shubuh)?!


Kerusakan Ketujuh: Terjerumus dalam Zina
Jika kita lihat pada tingkah laku muda-mudi saat ini, perayaan tahun baru pada mereka tidaklah lepas dari ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita) dan berkholwat (berdua-duan), bahkan mungkin lebih parah dari itu yaitu sampai terjerumus dalam zina dengan kemaluan. Inilah yang sering terjadi di malam tersebut dengan menerjang berbagai larangan Allah dalam bergaul dengan lawan jenis. Inilah yang terjadi di malam pergantian tahun dan ini riil terjadi di kalangan muda-mudi. Padahal dengan melakukan seperti pandangan, tangan dan bahkan kemaluan telah berzina. Ini berarti melakukan suatu yang haram.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ
Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.”[17]


Kerusakan Kedelapan: Mengganggu Kaum Muslimin
Merayakan tahun baru banyak diramaikan dengan suara mercon, petasan, terompet atau suara bising lainnya. Ketahuilah ini semua adalah suatu kemungkaran karena mengganggu muslim lainnya, bahkan sangat mengganggu orang-orang yang butuh istirahat seperti orang yang lagi sakit. Padahal mengganggu muslim lainnya adalah terlarang sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.”[18]
Ibnu Baththol mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits ini adalah dorongan agar seorang muslim tidak menyakiti kaum muslimin lainnya dengan lisan, tangan dan seluruh bentuk menyakiti lainnya. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun itu hanya menyakiti seekor semut”.”[19] Perhatikanlah perkataan yang sangat bagus dari Al Hasan Al Basri. Seekor semut yang kecil saja dilarang disakiti, lantas bagaimana dengan manusia yang punya akal dan perasaan disakiti dengan suara bising atau mungkin lebih dari itu?!


Kerusakan Kesembilan: Meniru Perbuatan Setan dengan Melakukan Pemborosan
Perayaan malam tahun baru adalah pemborosan besar-besaran hanya dalam waktu satu malam. Jika kita perkirakan setiap orang menghabiskan uang pada malam tahun baru sebesar Rp.1000 untuk membeli mercon dan segala hal yang memeriahkan perayaan tersebut, lalu yang merayakan tahun baru sekitar 10 juta penduduk Indonesia, maka hitunglah berapa jumlah uang yang dihambur-hamburkan dalam waktu semalam? Itu baru perkiraan setiap orang menghabiskan Rp. 1000, bagaimana jika lebih dari itu?! Masya Allah sangat banyak sekali jumlah uang yang dibuang sia-sia. Itulah harta yang dihamburkan sia-sia dalam waktu semalam untuk membeli petasan, kembang api, mercon, atau untuk menyelenggarakan pentas musik, dsb. Padahal Allah Ta’ala telah berfirman,
وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (Qs. Al Isro’: 26-27)
Ibnu Katsir mengatakan, “Allah ingin membuat manusia menjauh sikap boros dengan mengatakan: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” Dikatakan demikian karena orang yang bersikap boros menyerupai setan dalam hal ini.
Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.” Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Namun jika seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).” Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.”[20]


Kerusakan Kesepuluh: Menyia-nyiakan Waktu yang Begitu Berharga
Merayakan tahun baru termasuk membuang-buang waktu. Padahal waktu sangatlah kita butuhkan untuk hal yang bermanfaat dan bukan untuk hal yang sia-sia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi nasehat mengenai tanda kebaikan Islam seseorang,
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” [21]
Ingatlah bahwa membuang-buang waktu itu hampir sama dengan kematian yaitu sama-sama memiliki sesuatu yang hilang. Namun sebenarnya membuang-buang waktu masih lebih jelek dari kematian.
Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”[22]
Seharusnya seseorang bersyukur kepada Allah dengan nikmat waktu yang telah Dia berikan. Mensyukuri nikmat waktu bukanlah dengan merayakan tahun baru. Namun mensyukuri nikmat waktu adalah dengan melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah. Itulah hakekat syukur yang sebenarnya. Orang-orang yang menyia-nyiakan nikmat waktu seperti inilah yang Allah cela. Allah Ta’ala berfirman,
أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءكُمُ النَّذِيرُ
“Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?” (Qs. Fathir: 37). Qotadah mengatakan, “Beramallah karena umur yang panjang itu akan sebagai dalil yang bisa menjatuhkanmu. Marilah kita berlindung kepada Allah dari menyia-nyiakan umur yang panjang untuk hal yang sia-sia.”[23]
Inilah di antara beberapa kerusakan dalam perayaan tahun baru. Sebenarnya masih banyak kerusakan lainnya yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu dalam tulisan ini karena saking banyaknya. Seorang muslim tentu akan berpikir seribu kali sebelum melangkah karena sia-sianya merayakan tahun baru. Jika ingin menjadi baik di tahun mendatang bukanlah dengan merayakannya. Seseorang menjadi baik tentulah dengan banyak bersyukur atas nikmat waktu yang Allah berikan. Bersyukur yang sebenarnya adalah dengan melakukan ketaatan kepada Allah, bukan dengan berbuat maksiat dan bukan dengan membuang-buang waktu dengan sia-sia. Lalu yang harus kita pikirkan lagi adalah apakah hari ini kita lebih baik dari hari kemarin? Pikirkanlah apakah hari ini iman kita sudah semakin meningkat ataukah semakin anjlok! Itulah yang harus direnungkan seorang muslim setiap kali bergulirnya waktu.
Ya Allah, perbaikilah keadaan umat Islam saat ini. Perbaikilah keadaan saudara-saudara kami yang jauh dari aqidah Islam. Berilah petunjuk pada mereka agar mengenal agama Islam ini dengan benar.
“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Qs. Hud: 88)
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.


Disempurnakan atas nikmat Allah di Pangukan-Sleman, 12 Muharram 1431 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com

[1] Sumber bacaan: http://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_baru
[2] HR. An Nasa-i no. 1556. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[3] Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta‘, 3/88-89, Fatwa no. 9403, Mawqi’ Al Ifta’.
[4] HR. Bukhari no. 7319, dari Abu Hurairah.
[5] HR. Muslim no. 2669, dari Abu Sa’id Al Khudri.
[6] Al Minhaj Syarh Shohih Muslim, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, 16/220, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobiy, cetakan kedua, 1392.
[7] HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ (1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269.
[8] Lihat penukilan ijma’ (kesepakatan ulama) yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidho’ Ash Shirotil Mustaqim, 1/363, Wazarotu Asy Syu-un Al Islamiyah, cetakan ketujuh, tahun 1417 H.
[9] HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid (bagus).
[10] Ahkam Ahli Dzimmah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/441, Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1418 H.
[11] Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 7, Dar Al Imam Ahmad
[12] Al Kaba’ir, hal. 26-27, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.
[13] HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Misykatul Mashobih no. 574
[14] HR. Muslim no. 1163
[15] HR. Bukhari no. 568
[16] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/278, Asy Syamilah.
[17] HR. Muslim no. 6925
[18] HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 41
[19] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 1/38, Asy Syamilah
[20] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 5/69, pada tafsir surat Al Isro’ ayat 26-27
[21] HR. Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if  Sunan Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shohih.
[22] Al Fawa’id, hal. 33
[23] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6/553, pada tafsir surat Fathir ayat 37.


Sumber : https://rumaysho.com/740-10-kerusakan-dalam-perayaan-tahun-baru.html

Tuesday, 2 May 2017

Angin dalam Islam

Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah. Kami memujinya. Kami memohon pertolongan kepadaNya. Kami juga memohon ampunan dan bertaubat kepadaNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejelekan jiwa kami dan keburukan amal perbuatan kami.

Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Demikian pula, barangsiapa yang Allah sesatkan maka tiada satu pun yang bisa memberi hidayah kepadanya.

Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tanpa ada sekutu bagiNya. Dialah sesembahan orang-orang di masa silam dan masa datang serta penegak langit dan bumi.

Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya. Beliaulah manusia pilihan Allah, kekasih-Nya dan seorang yang Allah percaya untuk mendapatkan wahyu serta penyampai syariat kepada semua manusia.

Semoga Allah memuji dan memberi keselamatan untuknya, keluarganya dan seluruh shahabatnya.

Wahai orang-orang yang beriman, wahai hamba-hamba Allah bertakwalah kalian kepada Allah. Yakinlah bahwa takwa kepada Allah adalah sebaik-baik bekal menuju hari yang dijanjikan. Takwa adalah sebab yang paling penting untuk mendapatkan ridho Allah. Takwa adalah perkara yang Allah wasiatkan kepada orang-orang di masa silam ataupun orang di masa sekarang.

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

Yang artinya, “Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah” (QS. an Nisa’:131).

Sesungguhnya tanda kekuasaan Allah yang menunjukkan keesaan Allah dan bahwa Dia adalah pengatur alam semesta itu banyak sekali, tidak bisa dihitung. Sebagaimana perkataan seorang penyair, “Dalam segala sesuatu terdapat bukti bahwa Dia adalah zat yang esa”.

Di antara tanda kekuasaan Allah yang besar, bukti nyata keesaan-Nya yang menunjukkan bahwa Dia itu benar-benar esa dan segala urusan itu ada di genggaman-Nya dan diatur penuh oleh diri-Nya adalah angin yang diatur oleh Allah sebagaimana yang Dia kehendaki. Angin itu bertiup mengikuti perintah-Nya dan setelah mendapatkan izin dari-Nya. Angin adalah makhluk yang diatur dan diperintahkan. Dia tidak bisa datang atau pun pergi baik di waktu pagi atau pun sore kecuali dengan seizin Tuhannya yang merupakan zat yang mengatur dirinya. Semua gerakan angin itu dengan seizin-Nya. Semua tiupan angin itu dengan perintah-Nya. Sekali lagi, angin adalah makhluk yang diatur dan diperintah. Terkadang dia datang dengan membawa kabar gembira dan rahmat Allah. Di waktu yang lain, dia membawa adzab dan hukuman Allah. Segala urusan sepenuhnya ada di tangan Allah.

Angin adalah salah satu tanda kekuasaan Allah. Sepantasnya seorang mukmin mengambil pelajaran dengan keberadaan angin. Dengan angin, seorang hamba mengetahui betapa agungnya Allah, zat yang mengatur angin.

Dalam angin terdapat pelajaran dan nasihat yang sangat berharga serta tanda kekuasaan yang menunjukkan keagungan dan kesempurnaan sang pencipta.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ يُرْسِلَ الرِّيَاحَ مُبَشِّرَاتٍ وَلِيُذِيقَكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَلِتَجْرِيَ الْفُلْكُ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (46)

Yang artinya, “Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia-Nya. Mudah-mudahan kamu bersyukur” (QS ar Rum: 46).

وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (164)

Yang artinya, “Dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. al Baqarah: 164).


Memang benar, angin hanya menjadi tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal. 

Thursday, 8 January 2015

Bukti Tidak Ada Tuhan Selain Allah

Tahukah Anda bahwa sebagai orang yang mengaku beriman sekalipun, prinsip dan kelakuan yang di luar jalur Islam penyebabnya kadang sesimpel karena ia tidak benar-benar tahu bahwa Tuhan itu ada. Ia tidak dapat menunjukkan bahwa Tuhan itu hanya satu, yaitu Allah.

Coba, tunjukkan kepada saya bahwa Tuhan itu ada! Di mana?
Baiklah, kalau Anda sudah yakin bahwa argumentasi Anda tak tergoyahkan, Anda boleh tidak membaca tulisan ini.
Bagi yang belum yakin, tuntaskan tulisan ini.  Saya akan menceritakan bagaimana saya mengenal dan menemukan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.

Ide Transendental
Ide tentang zat yang berada di luar jangkauan manusia, transenden, muncul secara wajar dari ketidaktahuan manusia tentang banyak hal, sementara hal-hal tersebut begitu unik, ajaib, atau bahkan mengagumkan.

Manusia tak mengerti kenapa pohon kelapa bisa terbakar setelah ada petir, maka ia menanamkan ide di kepala bahwa pasti ada “dewa petir”. Para prajurit perang tak mengerti bagaimana pasukan yang sedikit bisa mengalahkan pasukan lawan yang jumlahnya berlipat-lipat, maka muncullah kepercayaan nasib yang ditentukan “dewa perang”. Atau siapa yang menggantungkan bintang di langit, matahari terbit setiap pagi, bulan purnama bersinar indah.

Salah satu pendekatan untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang belum dimengerti tersebut adalah sains.
Setelah merumuskan teori dan implikasinya, lalu dikonfirmasi oleh percobaan, fenomena pohon kelapa terbakar tadi dapat dijelaskan melalui “fisika sederhana”. Dengan memahami komposisi pasukan, faktor pemimpin, spirit pasukan, atau tujuan peperangan, seorang ahli strategi bisa mengatakan bahwa pasukan sedikit yang menang tadi merupakan contoh “seni perang”. Masalah bintang, matahari, dan bulan itu urusan astronomi.

Dari sini, banyak kejadian atau hal yang tak dimengerti sebelumnya dapat dijelaskan secara logis. Kita jadi tahu bahwa bumi ini bulat. Kita juga jadi tahu bahwa penyakit flu bisa diobati sehingga tak menyebabkan kematian massal seperti yang terjadi di zaman Inca.

Tentu sains tak sebatas sains eksak. Dari sisi psikologi, misalnya, kita bisa membangun rumah sakit jiwa.
Secara keseluruhan, sains membantu kita memahami bagaimana alam semesta ini bekerja.
Efek sampingnya, bagi yang mendapat kepuasan dengan penjelasan-penjelasan sains itu, ia jadi tak memerlukan lagi ide zat transendental tadi. Toh ia tahu bahwa orang yang duduk lama di bawa pohon rindang bisa pingsan karena kekurangan oksigen, bukan karena penunggu pohon. Bahkan ia tahu kapan matahari akan padam.

Lebih jauh, sains tak mendeteksi adanya zat transendental. Sains tak mendeteksi adanya Tuhan. Tuhan tak bisa dilihat, tak bisa diraba, atau tak dapat dicicipi. Tak pernah terjadi, misalnya, seorang ahli optik setelah bekerja selama 10 tahun dengan penuh dedikasi, tibalah suatu hari ia berlari keluar laboratorium sambil berteriak, “Eureka! Eureka…!” Ia telah melihat Tuhan melalui teropong.
Tak pernah.
Orang-orang yang tak mendeteksi adanya Tuhan secara ilmiah itu lalu menyimpulkan dengan lantang bahwa Tuhan tidak ada. Bahwa alam semesta ini muncul dari ketaksengajaan (coincidence), bukan diciptakan. Kita sebut saja kelompok orang ini sebagai materialis.

Berpikir Seperti Saintis
Seseorang mungkin akan membuat Anda ragu dengan pertanyaan: “Sains tahu jawabannya, kenapa Anda masih percaya Tuhan?” Mari kita bantah dengan beberapa poin berikut:

1. Postulat
Secanggih-canggihnya pencapaian sains, semuanya berdasar pada postulat. Postulat adalah pernyataan yang dianggap benar tanpa pembuktian. Dari postulat ini dapat diturunkan implikasi-implikasi lain sehingga terkonstruksi suatu bangunan ilmu pengetahuan; biasanya dinyatakan dalam teorema, proposisi, dan akibat (corollary). Salah satu postulat yang terkenal adalah Hukum Kekekalan Energi:
Energi tak dapat dimusnahkan dan diciptakan. Ia hanya berubah dari bentuk satu ke bentuk yang lain.

Pernyataan ini diterima begitu saja, dianggap benar tanpa perlu dibuktikan. Seorang saintis sama sekali tak bereksperimen untuk menciptakan energi baru, tak pula ia berusaha memusnahkan suatu energi. Pokoknya itu benar.

Jika digabungkan dengan Hukum Kekekalan Massa, didapat ekuivalensi antara masa dan energi seperti E=mc2 yang terkenal itu.
Contoh lain:
Hanya ada tepat satu garis yang melalui dua titik yang berbeda.

Pernyataan ini tak pernah dibuktikan, tapi implikasinya sangat dahsyat. Salah satunya kajian geometri bola (Spherical Geometry). Ambil contoh bola dunia. Jika bumi dianggap bola berjari-jari 1 m, tahukah Anda luas seluruh permukaan bumi 4 pi m2 itu akibat dari pernyataan di atas? Atau tahukah Anda berapa jumlah minimal satelit agar GPS berfungsi dengan baik di seluruh permukaan bumi?

2. Asumsi
Perilaku alam ini sungguh kompleks. Berinteraksi satu sama lain; Berubah terhadap waktu; Sementara otak manusia tak bisa mengimbangi. Karena itu, diperlukan suatu penyederhanaan agar mudah dipahami tanpa menghilangkan keadaan yang sebenarnya. Alat untuk menyederhanakan tersebut, saintis bermain dengan asumsi. Asumsikan “begini”, didapat suatu rumusan. Asumsikan “begini dan begitu”, didapat rumusan yang berlainan (atau berkaitan).

Misalnya, jika Anda ingin menentukan waktu tercepat untuk menempuh Jakarta-Bandung, percayalah, asumsikan bukan hari libur.

3. Tingkat Kepercayaan
Untuk ilmu-ilmu yang bukan teoritis/analitis, struktur bangunannya dibentuk dari hasil pengamatan/percobaan. Perlu diketahui bahwa perilaku alam ini juga tak bisa ditentukan secara pasti. Kita hanya mengamati suatu kejadian berdasar pada “peluang” ia terjadi. Dengan asumsi yang sesuai, suatu pengamatan akan diinterpretasikan “selogis mungkin” dengan “kesalahan sekecil mungkin”. Keberterimaan suatu interpretasi ditentukan oleh tingkat kepercayaan (level of acceptance). Dalam ilmu statistik, jika tingkat kepercayaan ini tinggi, 95% misalnya, kesimpulan dari suatu percobaan dapat dipandang ilmiah.

Meskipun ada kesalahan, kita mempertahankan interpretasi ini karena Hukum Bilangan Besar dan Teorema Limit Pusat (Central Limit Theorem), dalam artian: jika perlakuan terhadap sampel percobaan dilakukan berulang-ulang “cukup besar”, interpretasi akan “konvergen” (converge) ke keadaan yang sebenarnya.

Memahami ketiga hal di atas, kita bisa mematahkan prinsip materialis dengan satu sudut pandang saja: cacat logika (logic flaw).

Keunggulan metode sain melalui ketiga dasar di atas terletak pada kemampuan sains untuk “memprediksi” suatu kejadian. Hasil dari keunggulan tersebut termanifestasi dalam “produk sains”. Misalnya, dalam ilmu kimia kita kenal efek fotolistrik, maka kita bisa membuat mesin foto kopi.

Prediksi yang paling menakjubkan terjadi pada relativitas ruang dan waktu dalam teori relativitas Einstein: bahwa di sekitar benda yang massif, ruang itu melengkung. Ini “dikonfirmasi” oleh pengamatan Eddington dengan memotret benda langit saat gerhana matahari. Terlihat benda yang sama memiliki citra yang berbeda karena cahaya tidak merambat lurus. Ilustrasinya, jika sebuah pintu “sangat berat”, cahaya yang mengenai benda di balik pintu “berbelok” ke samping pintu sehingga sampai di mata kita, karena ruang di sekitar pintu itu melengkung, sehingga kita bisa melihat benda tersebut seolah-olah pintu tembus pandang.

Pengkonfirmasian teori melalui percobaan ini perlu kita luruskan. Ingat bahwa interpretasi “Tuhan tidak ada” tunduk pada implikasi dari postulat awal yang dibentuk. Penghubung antara postulat dan interpretasi adalah serangkaian hubungan sebab-akibat. Seperti yang pernah kita pelajari di SMA kelas 1 dulu, bentuk sebab-akibat yang paling umum dan sederhana bisa diambil contoh berikut.

“Jika saya lapar, maka saya makan.”
atau
“Semua orang Subang adalah warga Indonesia.”
Hasil konfirmasi itu terletak setelah kata “maka”. Secara pasti:
Jika teori berlaku, maka konfirmasi terjadi.

Padahal kita tahu:
Kalau saya makan, belum tentu saya lapar. Bisa saja karena memang saya rakus.
Atau bukankah tidak semua warga Indonesia itu orang Subang? Ada orang Bali!
Selanjutnya, kalau saya tak lapar, apakah saya tidak akan makan? Belum tentu. Bisa saja saya makan meskipun belum lapar. Atau kalau saya bukan orang Subang, apakah saya bukan warga Indonesia? Belum tentu. Saya mungkin orang Medan, tapi saya masih warga Indonesia.

Nah, interpretasi eksistensi Tuhan melalui pendeteksian oleh sains bisa kita tulis sebagai berikut.

“Jika Tuhan terdeteksi, maka Tuhan ada.”
Seperti penalaran sebelumnya, bukankah:
  1. Jika Tuhan tak terdeteksi, belum tentu Tuhan tidak ada. Bisa saja Tuhan ada, tapi tak terdeteksi.
  2. Jika Tuhan ada, belum tentu Tuhan terdeteksi. Bisa saja Tuhan ada, tapi tak terdeteksi.

Jadi, ketidakmampuan manusia mendeteksi Tuhan secara fisik (Tuhan tak terlihat, tak dapat dicicipi, atau tak dapat diraba), sama sekali tak menghilangkan fakta eksistensi Tuhan itu sendiri!
Holistik

Kesadaran akan adanya zat transendental juga muncul ketika kita memandang kehidupan dan alam semesta secara keseluruhan/holistik. Tadi kita melihat dari sisi “Bagaimana bumi mengelilingi matahari?”, sekarang kita lihat dari “Kenapa hanya di planet bumi terdapat makhluk hidup?”. Untuk itu, mari kita sikapi ketidakmengertian akan fenomena-fenomena seperti pohon kelapa terbakar bukan pada “bagaimana”, melainkan pada “latar belakang dan tujuan”. Ilustrasi yang paling umum adalah sebagai berikut.

Jika Anda pergi ke suatu kota, lalu Anda melihat gedung yang sangat indah, Anda akan bertanya-tanya: siapa pemilik gedung ini? siapa arsiteknya?, jumlah pegawainya?

Saya jawab:
Tidak ada yang mengerjakan gedung tersebut, apalagi arsitek. Gedungnya tiba-tiba tadi pagi ada di sana. Mungkin batu-batu dari gunung terbawa longsor, kaca dan besi berkumpul, lalu terbentuklah bangunan indah. Singkatnya, gedung itu terbangun secara kebetulan.

Anda menyangkal: tidak mungkin!
Nah, mari kita terapkan penalaran yang sama terhadap alam semesta. Apakah Anda tidak merasakan keindahan bintang-bintang yang bersinar di malam hari itu? Pernahkah Anda mengajak kekasih Anda untuk menyaksikan matahari terbit dari atas bukit? Lalu Anda berpikir bahwa keindahan itu terjadi secara kebetulan?

Kita sangkal: tidak mungkin!
Orang-orang yang menyadari adanya “campur tangan” zat transendental, secara naluriah akan mencari siapa/apa zat tersebut. Sama seperti ketika kita sudah yakin bahwa gedung indah di kota tadi pasti dibangun, kita akan mencari siapa arsiteknya. Kelompok orang ini lalu masuk ke pencarian Tuhan.

Kita ambil contoh cara Nabi Ibrahim berdakwah kepada kaumnya. Misalkan seseorang awalnya mengira matahari adalah Tuhannya, tapi ketika matahari terbenam, ia ragu, harusnya Tuhan tidak terbenam. Kemudian ia menganggap bulan itu Tuhan, tapi ketika datang siang, ia ragu, harusnya Tuhan tidak hilang siang dan malam.
Sama seperti kita mencari sesuatu, kita bisa menemukan sesuatu itu karena hal-hal berikut.
1. Tanda-tanda
Kalau kita mencari kuda hilang, kita akan memperhatikan tapak kakinya.
2. Informasi dari orang lain
Kita akan bertanya, barangkali ada yang melihat kuda.
3. Sesuatu itu sendiri yang menampakkan diri.
Kudanya sendiri yang menampakkan diri kepada kita.
Ide zat transendental tadi baru sampai pada poin 1. Kita baru menyadari bahwa ada tapak kuda, kita melihat bintang-bintang yang menakjubkan. Poin 2 bisa terjadi kalau memang ada yang telah melihat zat tersebut. Sampai sini, Tuhan tahu keterbatasan manusia; dengan segala kesibukannya, egoismenya, atau godaan setan. Tuhan juga tahu sains tidak akan mendeteksi diri-Nya. Maka, kita perlu poin 3. Jadi, Tuhan sendiri yang akhirnya memperkenalkan diri-Nya sendiri kepada manusia.

Tapi Tuhan selektif, Ia tak memberi tahu sembarang orang. Ia hanya memberi tahu orang-orang yang benar-benar mencari Tuhan. Lebih jauh, Tuhan memperkenalkan diri lewat manusia pilihan yang disiapkan untuk member tahu manusia lainnya. Dalam hal ini, kita namai nabi.

Nah, saya akan menggunakan informasi yang diberikan Tuhan kepada nabi tersebut seakan-akan kita sudah tahu bahwa informasi tersebut valid/otentik/benar. Kita akan lihat nanti bagaimana satu informasi bisa didapat dari informasi lain dan antar informasi saling menguatkan, termasuk klaim validasi itu sendiri. Dan sumber informasi yang digunakan adalah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad, yaitu Al-Qur’an.

Perhatikanlah bagaimana cara Tuhan memperkenalkan diri melalui ayat-ayat berikut.
1. “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaha 20:14)
Secara gamblang:
“Sampaikan kepada orang-orang yang mencari Tuhan itu, Muhammad, Akulah Allah, Tuhan kalian. Aku yang menciptakan langit dan bumi, bahkan diri kalian sendiri. Lalu beribadahlah kepadaku supaya kalian ingat terus, tidak lupa, tidak tersesat.”
Tapi apakah Muhammad sekadar menciptakan ide transendental melalui kepalanya sendiri? Apakah konsep Allah itu hasil pemikirannya sendiri? Sekadar untuk menarik simpati dengan membuat wadah keagamaan? Tidak. Allah sendiri memberi tahu:
2. “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm:3-4)
Secara gamblang:
“Hey, kamu yang masih ragu-ragu, juga kamu yang mencari-cari kesalahan, apa yang dikatakan Muhammad itu bukan berasal dari pikirannya, tapi datang dari Aku, Tuhan kalian.”
Untuk lebih meyakinkan bahwa Al-Qur’an ini datang dari Tuhan, Tuhan sendiri memberikan ruang kontemplasi:
3. “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (Al-An’am:82)
Tapi di dalam Al-Qur’an tidak ada yang bertentangan, baik antar ayat, maupun dengan observasi sains. Maka, pastilah Al-Qur’an itu datang dari Tuhan. (Ingat, kalau saya tak makan, pastilah saya tak lapar.)
Apa? Anda masih menolak? Tuhan menantang Anda:
4. “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.” (Al-Baqarah:23)
Secara gamblang:
“Kalau Anda tidak bisa membuat satu ayat saja yang seperti Al-Qur’an, maka Anda orang-orang yang salah. Jadi, akuilah bahwa Aku ini Tuhanmu.”
Menurut hemat saya, kalau Anda mencoba membuat-buat satu surat saja, secara tak langsung Anda telah mengakui bahwa itu perkataan Tuhan. Anda hanya mencari-cari fitnah.

Jika kita mengasosiasikan Tuhan sebagai zat yang menciptakan alam semesta, wajarlah jika kita menganggap-Nya sangat hebat, sementara kita makhluk kerdil yang tak ada apa-apanya. Tuhan menciptakan DNA, sementara manusia harus berabad-abad untuk mengetahui adanya DNA.

Dengan hanya 4 pokok pengenalan tersebut, pembuktian eksistensi Tuhan sepenuhnya terletak pada validasi Al-Qur’an. Padahal, validasi ini telah diberikan oleh poin 3:
Al-Qur’an datang dari Tuhan, maka seluruh isinya merupakan kebenaran.
Sampai sini, kita sudah membuktikan bahwa Tuhan itu ada.

Lalu, untuk membuktikan bahwa Tuhan itu hanya satu, kita ambil saja ayat Al-Qur’an berikut ini:
“Katakanlah (olehmu, Muhammad), ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa’.” (Al-Ikhlash:1)
Jadi, Tuhan itu ada dan hanya satu, yaitu Allah.
Bukti lengkap.